Betangnews.com, Palangka Raya – Kegiatan nonton bareng (nobar) film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita yang berlangsung di sejumlah daerah, termasuk Kalimantan Tengah, memunculkan beragam respons dari masyarakat. Menyikapi hal tersebut, Guru Besar dan Dosen Universitas Palangka Raya (UPR), Prof. Dr. Andrie Elia Embang, S.E., M.Si., mengimbau masyarakat agar tidak terburu-buru membentuk opini hanya berdasarkan satu tayangan atau satu sudut pandang.
Menurut Andrie Elia, sebuah film dokumenter merupakan karya yang menyampaikan perspektif tertentu terhadap suatu persoalan. Karena itu, masyarakat perlu memperkaya pemahaman dengan mempelajari berbagai sumber informasi yang kredibel agar dapat melihat suatu isu secara utuh dan proporsional.
Literasi Informasi Harus Menjadi Pegangan
Andrie Elia menegaskan bahwa kemampuan masyarakat dalam memilah informasi menjadi sangat penting di tengah derasnya arus informasi digital. Ia mengajak masyarakat untuk membiasakan diri melakukan verifikasi terhadap setiap informasi sebelum menyebarkannya maupun menjadikannya dasar dalam membentuk pendapat.
“Setiap warga negara memiliki hak untuk memperoleh informasi dan menyampaikan pendapat. Namun, hak tersebut juga harus disertai tanggung jawab untuk memastikan informasi yang digunakan benar, lengkap, dan dapat dipertanggungjawabkan. Dengan begitu, ruang publik akan diisi oleh diskusi yang sehat dan produktif,” ujarnya.
Ia menambahkan, budaya literasi yang baik akan membantu masyarakat membedakan antara informasi yang telah terverifikasi dengan narasi yang masih memerlukan pembuktian. Sikap tersebut dinilai penting untuk mencegah berkembangnya disinformasi yang berpotensi menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.
Kebijakan Publik Perlu Dinilai Secara Menyeluruh
Sebagai akademisi, Andrie Elia juga mengingatkan bahwa setiap kebijakan pemerintah, termasuk program ketahanan pangan nasional, sebaiknya dinilai secara menyeluruh dengan memperhatikan tujuan, proses pelaksanaan, manfaat, serta tantangan yang dihadapi di lapangan. Menurutnya, penilaian yang objektif akan menghasilkan kritik yang konstruktif dan dapat menjadi masukan bagi penyempurnaan kebijakan.
Ia berharap masyarakat Kalimantan Tengah tetap menjaga suasana yang kondusif dengan mengedepankan dialog, menghormati perbedaan pendapat, serta menghindari penyebaran informasi yang belum terverifikasi. Menurutnya, sikap kritis harus berjalan seiring dengan tanggung jawab intelektual agar setiap diskusi publik mampu memberikan manfaat bagi masyarakat luas.
(Ptr/betangnews.com)



