Betangnews.com, Pangkalan Bun – Karhutla TN Tanjung Puting hingga kini masih menjadi perhatian serius setelah kebakaran melanda ribuan hektare kawasan konservasi di Kalimantan Tengah. Hingga 9 September 2026, luas kawasan Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP) yang terdampak kebakaran tercatat mencapai 3.105,47 hektare.
Kebakaran tidak hanya mengancam kelestarian kawasan hutan, tetapi juga meningkatkan risiko terhadap habitat berbagai satwa liar yang dilindungi. Kondisi medan yang didominasi lahan gambut membuat petugas harus menghadapi tantangan besar dalam mengendalikan api agar tidak terus meluas.
Karhutla Menyebar di Tiga Wilayah
Karhutla TN Tanjung Puting tercatat terjadi di tiga wilayah, yakni Teluk Pulai dan Sungai Cabang di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), serta Sungai Perlu di Kabupaten Seruyan. Petugas terus melakukan pemadaman dan pemantauan di sejumlah titik untuk membatasi penyebaran api.
Kepala Balai TNTP Yohan Hendratmoko mengatakan pihaknya memusatkan penanganan di beberapa lokasi, meliputi Teluk Pengarangan atau Kumai, Teluk Pulai, Sungai Cabang, dan Sungai Perlu. Sekitar 70 personel telah dikerahkan untuk mempercepat penanganan di lapangan.
Petugas juga mendapat dukungan dari Masyarakat Peduli Api (MPA), Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), mitra Orangutan Foundation International (OFI), Orangutan Foundation United Kingdom (OF-UK), Friends of National Parks Foundation (FNPF), serta PT Kumai Sentosa.
Berdasarkan data Balai TNTP, Resor Teluk Pulai mencatat kawasan terdampak seluas 1.062,24 hektare. Sementara itu, kebakaran di Resor Sungai Cabang mencapai 1.113,70 hektare dan Resor Sungai Perlu mencapai 929,83 hektare.
Medan Gambut Persulit Pemadaman
Proses pemadaman karhutla TN Tanjung Puting menghadapi kendala karena api berada di kawasan gambut dengan kedalaman sekitar 0,5 hingga 4 meter. Kondisi tersebut membuat petugas harus bekerja ekstra untuk memastikan api benar-benar padam dan tidak kembali menyala dari dalam lapisan gambut.
Selain karakteristik lahan, keterbatasan akses menuju lokasi kebakaran turut memperlambat mobilisasi petugas dan peralatan. Keterbatasan jumlah personel serta sarana dan prasarana pemadaman juga menjadi tantangan dalam menangani kebakaran di kawasan konservasi tersebut.
Kondisi itu membuat penanganan tidak hanya membutuhkan pemadaman di permukaan, tetapi juga pemantauan berkelanjutan terhadap titik-titik api yang berpotensi kembali muncul.
Habitat Orangutan Ikut Terancam
Kebakaran yang terus berlangsung juga menimbulkan ancaman terhadap habitat orangutan (Pongo pygmaeus), salah satu satwa kunci yang dilindungi dan memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan TNTP.
Balai TNTP kemudian meminta dukungan water bombing untuk mempercepat pengendalian kebakaran. Pemadaman melalui udara dinilai dapat membantu petugas menjangkau titik-titik kebakaran yang sulit diakses melalui jalur darat sekaligus menekan potensi perluasan api ke kawasan konservasi lainnya.
Upaya tersebut diharapkan dapat memperkuat penanganan di lapangan, terutama pada wilayah yang memiliki akses terbatas dan kondisi gambut yang menyulitkan pemadaman secara manual. Pemerintah dan seluruh pihak terkait perlu terus memperkuat koordinasi agar kebakaran dapat segera dikendalikan dan dampaknya terhadap ekosistem TN Tanjung Puting dapat diminimalkan.
(Ptr/betangnews.com)




