Betangnews.com, Sampit — Akademisi asal Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, Tasrifinoor, mendorong Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengambil langkah tegas dengan memblokir atau menghapus aplikasi game online yang rawan disusupi paham radikal.
Paparan Radikalisme Mengintai Anak Usia Dini
Tasrifinoor menyoroti temuan serius terkait indikasi dua pelajar sekolah dasar (SD) di Kotim yang terpapar paham radikalisme. Ia menjelaskan, penyebaran tersebut bermula dari aktivitas game online yang kemudian mengarahkan anak-anak masuk ke grup percakapan digital untuk ditanamkan ideologi menyimpang.
Menurutnya, pola penyebaran radikalisme di ruang digital menyerupai piramida, di mana pengambil kebijakan berada di puncak dan masyarakat, termasuk anak-anak, hanya menjadi sasaran yang mengikuti arus. Karena itu, ia menilai Komdigi harus bertindak cepat dan selektif dalam menyaring konten digital.
Peran Negara Lindungi Generasi Bangsa
Tasrifinoor menegaskan pencegahan radikalisme digital tidak cukup hanya dengan imbauan. Ia mendorong langkah nyata berupa pemblokiran aplikasi atau situs yang terbukti dimanfaatkan untuk menyebarkan paham radikal, termasuk platform game online jika ditemukan penyalahgunaan.
Ia juga mendukung rencana pemerintah daerah membatasi penggunaan gawai pada anak di bawah umur serta mendorong sekolah menerapkan aturan tegas terkait larangan membawa telepon seluler ke lingkungan pendidikan. Menurutnya, pengawasan penuh dari sekolah dan wali kelas menjadi kunci membentengi anak dari pengaruh negatif dunia digital.
Ajakan Waspada dan Cinta Pancasila
Tasrifinoor turut mengajak orang tua agar lebih bijak dalam memberikan fasilitas digital kepada anak. Ia menilai pemberian ponsel sebagai hadiah prestasi tidak tepat untuk usia dini dan berpotensi membuka celah paparan ideologi berbahaya.
Ia menekankan pentingnya sinergi pemerintah pusat, daerah, sekolah, dan keluarga dalam menjaga generasi muda agar tumbuh dengan nilai kebangsaan, cinta tanah air, dan berlandaskan Pancasila. Kewaspadaan bersama dinilai menjadi benteng utama agar anak-anak Indonesia tidak terjerumus pada paham radikalisme yang mengancam persatuan dan keutuhan bangsa.
“Penguatan nilai Pancasila dan kecintaan terhadap NKRI harus terus ditanamkan sejak dini agar generasi muda tumbuh sebagai pelindung masa depan bangsa, bukan korban ideologi yang menyesatkan,” tegasnya. (Ptr/betangnews.com)



